Showing posts with label nasihat. Show all posts
Showing posts with label nasihat. Show all posts

Thursday, August 4, 2011

Ketika hati membatu


Ciri-Ciri Orang Berhati Keras


Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan, bahwa ciri orang yang berhati keras itu adalah tidak lagi merespon larangan dan peringatan, tidak mau memahami apa maksud Allah dan rasul-Nya karenasaking kerasnya hatinya. Sehingga tatkala setan melontarkan bisikan-bisikannya dengan serta-merta hal itu dijadikan oleh mereka sebagai argumen untuk mempertahankan kebatilan mereka, mereka pun menggunakannya sebagai senjata untuk berdebat dan membangkang kepada Allah dan rasul-Nya (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 542)


Orang yang berhati keras itu tidak bisa memetik pelajaran dari nasehat-nasehat yang didengarnya, tidak bisa mengambil faedah dari ayat maupun peringatan-peringatan, tidak tertarik meskipun diberi motivasi dan dorongan, tidak merasa takut meskipun ditakut-takuti. Inilah salah satu bentuk hukuman terberat yang menimpa seorang hamba, yang mengakibatkan tidak ada petunjuk dan kebaikan yang disampaikan kepadanya kecuali justru memperburuk keadaannya (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 225).


Orang yang memiliki hati semacam ini, tidaklah dia menambah kesungguhannya dalam menuntut ilmu melainkan hal itu semakin mengeraskan hatinya… Wal ‘iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah darinya)… Maka sangat wajar, apabila sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhumengingatkan kita semua, “Ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi hakekat ilmu itu adalah rasa takut.” Abdullah anak Imam Ahmad pernah bertanya kepada bapaknya, “Apakah Ma’ruf al-Kurkhi itu memiliki ilmu?!”. Imam Ahmad menjawab, “Wahai putraku, sesungguhnya dia memiliki pokok ilmu!! Yaitu rasa takut kepada Allah.” (lihat Kaifa Tatahammasu, hal. 12).

Sebab Hati Menjadi Keras


Sebab utama hati menjadi keras adalah kemusyrikan. Oleh sebab itu Ibnu Juraij rahimahullahmenafsirkan ‘orang-orang yang berhati keras’ dalam surat al-Hajj ayat 53 sebagai orang-orang musyrik (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [5/326]). Demikian pula orang-orang yang bersikeras meninggalkan perintah-perintah Allah dan orang-orang yang memutarbalikkan ayat-ayat Allah (baca: ahlul bid’ah); mereka menyelewengkan maksud ayat-ayat agar cocok dengan hawa nafsunya. Orang-orang seperti mereka adalah orang-orang yang berhati keras (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 225). Selain itu, faktor lain yang menyebabkan hati menjadi keras adalah berlebih-lebihan dalam makan, tidur, berbicara dan bergaul (lihat al-Fawa’id, hal. 95)


Lembut dan Kuatkan Hatimu!


Sudah semestinya seorang muslim -apalagi seorang penuntut ilmu!- berupaya untuk memelihara keadaan hatinya agar tidak menjadi hati yang keras membatu. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hati seorang hamba akan menjadi sehat dan kuat apabila pemiliknya menempuh tiga tindakan:

  1. Menjaga kekuatan hati. Kekuatan hati akan terjaga dengan iman dan wirid-wirid ketaatan.
  2. Melindunginya dari segala gangguan/bahaya. Perkara yang membahayakan itu adalah dosa, kemaksiatan dan segala bentuk penyimpangan.
  3. Mengeluarkan zat-zat perusak yang mengendap di dalam dirinya. Yaitu dengan senantiasa melakukan taubat nasuha dan istighfar untuk menghapuskan dosa-dosa yang telah dilakukannya (lihat Ighatsat al-Lahfan, hal. 25-26)

Sungguh indah perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Setiap hamba pasti membutuhkan waktu-waktu tertentu untuk menyendiri dalam memanjatkan doa, berzikir, sholat, merenung, berintrospeksi diri dan memperbaiki hatinya.” (dinukil dari Kaifa Tatahammasu, hal. 13).

Ibnu Taimiyah juga berkata, “Dzikir bagi hati laksana air bagi seekor ikan. Maka apakah yang akan terjadi apabila seekor ikan telah dipisahkan dari dalam air?” (lihat al-Wabil ash-Shayyib). Ada seseorang yang mengadu kepada Hasan al-Bashri, “Aku mengadukan kepadamu tentang kerasnya hatiku.” Maka beliau menasehatinya, “Lembutkanlah ia dengan berdzikir.”


Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menginginkan kejernihan hatinya hendaknya dia lebih mengutamakan Allah daripada menuruti berbagai keinginan hawa nafsunya. Hati yang terkungkung oleh syahwat akan terhalang dari Allah sesuai dengan kadar kebergantungannya kepada syahwat. Hancurnya hati disebabkan perasaan aman dari hukuman Allah dan terbuai oleh kelalaian. Sebaliknya, hati akan menjadi baik dan kuat karena rasa takut kepada Allah dan ketekunan berdzikir kepada-Nya.” (lihat al-Fawa’id, hal. 95)


~Semoga kehadiran Ramadhan yg penuh berkah ini memberi sinar baru pada hati2 yang telah membatu dan penuh dengan noda hitam maksiat..Ya Allah penuhilah hati-hati kami dengan cahayaMU agar subur keimanan dan kecintaan hanya pada MU...aminn


Friday, August 13, 2010

Siapa Ahli Taklif dan Siapa Ahli Takrif?

Telah berkata Syeikh Ahmad Ibnu Athoillah Al Iskandariyy:

Barang siapa memberi nasihat kerana masih memandang akan kebaikannya, maka keburukannya pasti mendiamkannya. Dan barangsiapa memberi nasihat kerana memandang kebaikan Allah kepadanya, maka dia tidak akan diam bila melakukan kesalahan.

Orang yang memberikan nasihat dengan disertakan pengertian bahawa nasihat nya itu timbul dari amal solehnya,tentu dia akan terdiam atau tidak mahu berkata lagi seandainya tergelincir dalam kesalahan. Tetapi orang yang mengerti bahawa nasihatna itu semata-mata adalah kurniaan Allah tentu dia tidak akan merasa malu seandainya pada suatu ketika tergelincir dalam kesalahan. Begitulah perbezaan antara ahli taklif (orang yang merasa mendapat beban dari Allah) dengan ahli takrif (orang yang makrifat pada Allah).

Abu Abas berkata, manusia itu terbahagi kepada tiga golongan,iaitu:

1. Golongan orang yang melihat bahawa segala sesuatu yang timbul daripadanya menuju pada ALLAH.

2. Golongan yang melihat bahawa segala sesuatu yang timbul daripadanya adalah kurniaan daripada ALLAH yang diberikan kepadanya.

3. Golongan orang yang melihat bahawa segala sesuatu itu dari ALLAH dan menuju kepadaNYA pula.


Golongan pertama adalah orang yang selalu memikirkan kekurangan diri nya di dalam menjalankan kewajipan,sehingga selalu berduka cita. Golongan pertama itu kerana mengingati firman ALLAH SWT:

إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَہَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَـٰنُۖ إِنَّهُ ۥ كَانَ ظَلُومً۬ا جَهُولاً۬ (٧٢

"Sesungguhnya Kami telah kemukakan tanggungjawab amanah (Kami) kepada langit dan bumi serta gunung-ganang (untuk memikulnya), maka mereka enggan memikulnya dan bimbang tidak dapat menyempurnakannya (kerana tidak ada pada mereka persediaan untuk memikulnya) dan manusia (dengan persediaan yang ada padanya) sanggup memikulnya. (Ingatlah) sesungguhnya tabiat kebanyakan manusia adalah suka melakukan kezaliman dan suka pula membuat perkara-perkara yang tidak patut dikerjakan." (Al Ahzab:72)



Golongan kedua adalah orang yang selalu mengakui bahawa segala semua yang berlaku ke atas dirinya adalah kurnia dari ALLAH, sehingga selalu bergembira.Golongan kedua itu kerana berpegang pada firman ALLAH SWT iaitu;

قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٲلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٌ۬ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ(٥٨

"Katakanlah : Dengan kurniaan ALLAH dan Rahmat-NYA hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurniaan ALLAH dan Rahmat-NYA itu lebih baik daripada apa yang mereka himpunkan dari segala benda dan perkara yang tidak kekal)." (Yunus:58)



Golongan ketiga pula adalah orang yang telah lupa pada dirinya sendiri dan selalu mengingati bahawa semua yang berasal dari ALLAH itu pasti kembali kepada ALLAH,sehingga mereka selalu berserah kepada kehendak ALLAH. Golongan ketiga ini pula berpegang pada firman ALLAH SWT;

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُ
"Dan barangsiapa bertawakkal kepada ALLAH, ALLAH akan mencukupkan keperluannya."(At Talaq:3)


~bil qalam hikmah Syeikh Ahmad Ibnu Athoillah Al Iskandariy dipetik dari kitab Mutiara Al Hikam

Wednesday, July 21, 2010

Nasihat Buat Para Pencari 'Ilmu

Dengan Nama ALLAH Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang

Ketahuilah, salah seorang murid Al Ghazali yang telah menyertai gurunya selama bertahun-tahun bertanya-tanya kepada dirinya. Ia berguru, menemani dan melayani gurunya dalam waktu yang cukup lama. Berbagai ilmu dan pengalaman spiritual telah diperolehnya, tetapi ia masih merasa ragu terhadap dirinya. Ia berkata kepada dirinya, "Saya telah membaca berbagai macam ilmu. Usiaku habis untuk belajar dan mengumpulkan bermacam-macam ilmu. Hingga sekarang saya tidak mengetahui ilmu yang mana yang bermanfaat bagiku dan menemaniku kelak di alam kubur. Saya juga tidak tahu ilmu mana yang tidak bermanfaat bagiku sehingga saya harus meninggalkannya. Padahal Rasulullah saw. telah berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung denganMu dari ilmu yang tidak bermanfaat."

Ia terus berpikir dan berpikir sampai akhirnya memutuskan untuk menulis surat kepada gurunya, Al Ghazali. Ia mengadukan kepadanya kegelisahan hatinya dan meminta nasihat. Ia memang mengaku sudah banyak memperoleh pelajaran dari gurunya, tetapi yang dicari belum ditemukan. Salah satu ucapan yang disampaikan kepada gurunya adalah sebagai berikut: "Beberapa buku karangan Syekh, seperti Kitab Ihya’ dan kitab-kitab yang lain memang sudah menjawab masalah saya. Akan tetapi, maksud saya di sini adalah agar Syekh menuliskan untuk saya nasihat yang tertulis hanya dalam beberapa lembar kertas. yang saya bisa membawanya sepanjang hidup saya dan mengamalkannya."
Kemudian Al Ghazali menulis jawaban. Surat itu kepada muridnya sebagaimana berikut.

Ilmu adalah Untuk Diamalkan

Ketahuilah, wahai anakku yang mulia dan sahabat yang ikhlas, - semoga Allah menetapkan ketaatanmu kepadaNya dan melangkahkan kakimu dijalan para kekasihNya-, Sesungguhnya tebaran nasihat ditulis dari risalah Rasulullah saw. Jika nasihat dari Baginda telah sampai kepadamu, maka nasihat apa lagi yang kamu perlukan dariku. Jika belum sampai, maka katakan kepadaku apa yang telah kamu peroleh selama bertahun-tahun ini dari ilmu yang telah kau raih? Sementara pada saat yang sama engkau habiskan waktumu mencari ilmu itu.

Wahai Anakku di antara nasihat Rasulullah saw. yang sangat berharga adalah sabda Baginda ini:
"Tanda-tanda Allah berpaling dari hambaNya adalah kesibukan hamba itu dengan sesuatu yang tidak berarti. Jika seseorang sesaat saja dari usianya hilang untuk sesuatu yang tidak berguna bagi tujuan penciptaannya, maka patut baginya mendapatkan kerugian yang panjang: dan barangsiapa telah melewati 40 tahun dan kebaikannya tidak mengalahkan kejelekannya, maka bersiap-siaplah ke neraka."

Nasihat ini sudah cukup bagi orang yang benar-benar ahli ilmu. Wahai Anakku, urusan nasihat sangat mudah, yang susah adalah menerima nasihat. Kerana menerima nasihat bagi hawa nafsu terasa pahit, sementara larangan-larangan itulah yang disukai oleh sebahagian besar manusia, khususnya bagi orang yang hanya sibuk mencari ilmu, dimana ilmunya tersebut digunakan hanya untuk memperoleh keagungan dan kemulian dunia. Dengan upayanya mencari ilmu itu - dia hanya bertujuan untuk mendapatkan ilmu semata - bukan untuk diamalkan - agar ilmu tersebut dinisbatkan kepadanya.

Dengan demikian orang akan berkata "Si Fulan seorang yang berilmu (sarjana, master, doktor dll -pentj) dan mulia". Orang yang terakhir ini hidupnya hanya sibuk mengurusi nafsu dan memasuki lorong-lorong kehidupan dunia. Ia mengira bahwa dengan mendapatkan ilmu semata, kehidupannya akan selamat dan terlepas dari kesengsaraan. Ia tidak perlu beramal. Ini adalah keyakinan para filosofi( ahli falsafah/Muktazilah). Mahasuci Allah. Ia tidak mengetahui ketentuan ini ketika sudah mendapatkan ilmu dan tidak mengamalkannya, ia justru berhujjah dengan sekian banyak dalil yang memperkuatkan pandangannya bahwa ilmu untuk ilmu, bukan untuk amal. Rasulullah saw. bersabda:
"Manusia yang mendapatkan azab paling berat di akhirat adalah orang yang berilmu yang Allah tidak memberinya kemanfaatan atas ilmunya."

Imam Ahmad dan al-Bayhaqi meriwayatkan dari Mansur Ibn Zadan yang berkata, "Telah sampai kabar kepada kami, bahwa apabila orang berilmu tidak memperoleh manfaat dari ilmunya itu, para penghuni Neraka berteriak karena mencium baunya yang busuk. Mereka—para penghuni neraka itu— berkata kepadanya, "Apa yang telah kamu perbuat, wahai orang jelek? Kamu telah mengganggu kami dengan baumu yang busuk. Apakah tidak cukup bagimu rasa sakit dan keburukan kami?" Orang yang berilmu itu menjawab, "Dulu, aku ini orang berilmu, tetapi aku tidak memperoleh manfaat dari ilmuku."

Diriwayatkan bahwa Al Junaidi setelah wafat memperlihatkan dirinya dalam tidurku(mimpi), lalu ditanyakan kepadanya, "Apa kabar. hai Abu Al Qasim (panggilan Al Junaidi)?" Ia menjawab, "Semua ungkapan (ilmu) telah rusak dan isyarat-isyarat (ilmu yang lebih dalam) juga musnah. Tidak ada yang memberi kami manfaat kecuali rakaat-rakaat yang kami rukuk di tengah malam."

Wahai Anakku, Janganlah kamu menjadi orang yang muflis sebab amalmu, dan jangan pula batinmu dalam keadaan kosong dari dzikir pada Allah. Yakinlah bahwa ilmu semata tidak mungkin boleh diharapkan semata-mata.

Contohnya, seandainya seorang laki-laki gagah di tengah gurun sendirian memiliki sepuluh pedang India yang sangat kuat dan beberapa harta lainnya. Laki-laki itu dikenal pemberani dan pahlawan perang.

Kemudian seekor singa yang sangat besar menghampirinya dan mahu menerkamnya. Apa pendapatmu, apakah senjata-senjata yang hebat itu mampu mencegah laki-laki itu dan terkaman singa jika ia tidak menggunakan dan menghantamkannya kepada singa? Sudah pasti senjata-senjata itu tidak mampu melindunginya kecuali dengan digerak-gerakkan.

Demikian juga jika seseorang telah membaca 100000 masalah ilmiah dan berhasil menguasainya, tetapi tidak mengamalkannya, maka ilmu-ilmu itu tidak akan memberinya manfaat kecuali dengan mengamalkannva.

Contoh lain. jika seseorang sakit kuning, dan ia mengetahui bahwa kesembuhannya hanya dengan ubatan tertentu, maka ia tidak mungkin sembuh kecuali dengan meminum ubat itu.

Seandainya kamu telah belajar puluhan tahun, membaca banyak buku dan menguasai berbagai macam ilmu, lalu kamu menyimpan kitah-kitab sebagai bahan koleksi pribadi, maka semua itu tidak akan menolong dan menjadikanmu mendapatkan manfaat kecuali dengan mengamalkannya.

Allah swt. berfirman:

"Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya."
(QS. Al Najm: 39).


"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya. maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh." (QS. Al Kahfi: 110).

"Sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan."
(Qs. Al Taubah: 82).


"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh. bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya. mereka tidak ingin berpindah darinya." (QS. Al Kahfi: 107-108).

"Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh." (Qs. Al Furqan: 70).

Apa pula pendapatmu tentang hadis berikut ini:

"Islam dibangun di atas lima [dasar]: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utuisan Allah, menegakkan shalat., mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadlan, dan berhaji ke Baitullah bagi yang mampu [menempuh] perjalanan ke sana."

Iman adalah diucapkan dengan lidah, dibenarkan dengan hati dan dilakukan dengan organ-organ tubuh. Ini merupakan antara dalil yang menunjukkan keharusan beramal bagi orang yang menganggap bahawa seseorang boleh sampai ke syurga berkat keutamaan dan kemuliaan Allah. Akan tetapi, hal ini hanya mungkin tercapai setelah orang itu melakukan ketaatan dan beribadah kepadaNya, karena rahmat dan keutamaan Allah hanya untuk orang-orang yang mendekati kebaikan. Yakni golongan orang baik.

Seandainya dikatakan pula bahwa syurga bisa dicapai dengan iman semata, maka kami jawab, "Benar, tetapi sampai bila?" Berapa banyak rintangan yang menuju surga yang harus ditempuh jika benar-benar ingin sampai. Ujian pertama adalah ujian iman. Apakah iman yang dimilikinya berjaya dipertahankan dan tidak tercabut dari hatinya, atau sebaliknya? Jika imannya selamat, apakah ia termasuk orang yang khianat atau muflis?

Hasan Basri berkata. "Allah pada hari kiamat akan berkata kepada hamba-hambaNya, "Masuklah, hai hamba-hambaKu ke syurga sebab rahmatKu dan berbahagialah kamu dengan amalmu."

Wahai Anakku, selama kamu tidak beramal, maka kamu tidak mendapatkan upah (pahala).
Dikisahkan bahwa seorang pemuda Bani Israil telah menyembah Allah selama 70 tahun. Allah swt. ingin memperlihatkannya kepada para malaikat, Maka diutuslah satu malaikat untuk memberikan kabar kepadanya bahwa ibadah yang selama ini dilakukannya belum menjadikannya layak masuk surga. Ketika kabar itu diterimanya, ia menjawabnya demikian. "Kami memang diciptakan untuk ibadah. Karena itu, kami harus menyembahNya." Ketika malaikat itu kembali dan menghadap Allah, ia mengadu, "Tuhanku, Engkau lebih tahu atas apa yang ia katakan." Allah pun menjawab, "Jika ia tidak berpaling dari beribadah kepada Kami, maka Kami bersama kemuliaan Kami tidak berpaling darinya. Saksikanlah, hai malaikat-malaikatKu, sesungguhnya Aku telah mengampuninya."

Rasulullah saw. bersabda:
"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab dan timbanglah amal kalian sebelum (amal)kalian ditimbang."

Ali bin Abi Thalib ra berkata, "Barangsiapa mengira bahwa dengan tanpa amal boleh sampai ke surga, maka ia seorang pengangan-angan (pengkhayal). Barangsiapa mengira bahwa ia boleh sampai ke syurga hanya kerana amalnya, bererti ia adalah orang yang tidak merasa perlu akan rahmat Allah."

Al Hasan berkata, "Mencari surga dengan tanpa amal adalah satu di antara dosa-dosa [besar]." la juga berkata, "Tanda kebenaran yang hakiki adalah meninggalkan perbuatan yang memperhatikan amal dan bukan meninggalkan amal."

Rasulullah saw. bersabda: "Orang yang cerdik adalah orang yang jiwanya dekat (pendek) dan beramal untuk sesuatu sesudah mati. Orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsu dan mengangan-angankan Allah dengan angan-angan."
(Al Imam Al Ghazali)

~Allah..Allah..semoga kita dapat istiqomah dalam beramal dan tidak tertipu dengan apa yang kita miliki..kerana nilai Syurga amatlah tinggi tidak ternilai,pasti maharnya(usaha memperolehi Syurga) juga tinggi..beramallah sebanyak-banyaknya bukan sekadar untuk mengejar nikmatnya Syurga, tapi kerana itulah nilai sebenar kehambaan kita pada Maha Pencipta...Semoga Allah memudahkan jalan kita menuju padaNYA..aminn Ya Rabb..

Thursday, June 10, 2010

Redha ALLAH atau redha manusia?


Dengan Nama ALLAH Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang

Dalam sebuah riwayat diceritakan, pada suatu hari, Lukman Al Hakim mengajak anaknya ke pasar dengan seekor unta. Lukman berada di atas unta,sedangkan anaknya menarik
unta itu. Di pertengahan jalan, mereka bertemu beberapa orang yang lalu. Orang2 itu mengatakan," Kejam betul org tua itu,dia yang menaiki unta,anaknya disuruh menarik unta."

Oleh kerana itu, Lukman menyuruh anaknya menaiki sekali ke atas unta. Tetapi,di tengah jalan ada beberapa orang yang lalu berkata pula,"Dua org naik satu unta?? Tambahlah seorang lagi jadi 3 orang."dengan nada yang sinis.

Mendengar cemuhan itu, Lukman turun menarik unta dan membiarkan anaknya di atas unta.
Sekali lagi,orang2 yang lalu mengkritik, "Anak kurang ajar! orang tua dijadikan hamba." Akhirnya, beliau menyuruh sang anak turun. Namun,masih lagi mereka mencela, "Bodoh sungguh, unta ada tapi tak dinaiki malah dipimpin pula.

Begitulah keadaannya hingga akhirnya mereka pun sampai ke pasar. Sebenarnya Lukman Al Hakim ingin memberi pelajaran pada anaknya mengenai orang yang selalu melihat pandangan orang lain. Begitulah keadaannya,walau apa pun yang kita buat tidak akan dapat memuaskan hati semua orang.
Dalam beramal juga begitulah keaadaannya. Ada orang yg beramal suka kalau dilihat dan diperhatikan orang. Padahal belum tentu dia selamat dari celaan orang.

Jika seseorang itu dalam bramal masih ada keinginan untuk senang dilihat oleh orang lain,maka hal itu adalah tanda sebenarnya dia tidak ada kesungguhan dalam menghamba
pada Allah Ta'ala. Kesungguhan dalam menghamba adalah untuk mencari redha Allah Ta'ala,bukan redha manusia. Jikalau orang itu memang ada kesungguhan dalam menghamba pd Allah,pasti dia merasa tidak suka dilihat orang lain kerana bimbang niatnya berubah dan dia sedar hanya Allah Ta'ala yang berhak melihat bukan untuk ipertonton orang lain.

Ada orang pula,dalam berbuat baik ibarat hangat2 tahi ayam saja. Awal2 saja semangat tapi mudah luntur apatah lagi jika dikritik orang lain. Kalau pergi ke masjid risau dikatakan berlagak baik. Kalau nak tegur kesalahan orang bimbang dibalas balik, "alah kau pun buat dosa juga". Kalau cuba beramal sunnah Nabi cthnya berjanggut dan
serban nanti orang kata kuno pula.

Ada juga yang suka mengikut pandangan orang lain walaupun dia tahu perbuatan itu tidak disukai Allah. Kalau tak ambil tahu gosip artis nanti orang kata tak up to date. Kalau pakai tudung labuh atau baju longgar nampak gemuk pula maka bertukarlah ke pakaian yang ketat dan singkat. Begitulah akhirnya pandangan Allah diabaikan
pandangan manusia diutamakan. Hidup pun tidak akan pernah tenang kerana setiap masa cuba memenuhi pandangan orang lain yang tak pernah puas.


Menurut Harts bin Asad Al Muhasibi,tanda2 orang yg ikhlas kepada Allah adalah dia tidak menghiraukan penilaian org padanya asalkan hubungannya dengan Allah tetap terpelihara. Tidak ada yang tahu kebaikannya walau sekecil debu dan tidak takut jika ada orang tahu keburukannya.

Menurut Syeikh Ibnu Athoillah,'Barangsiapa mengenal Allah Yang Haq,pastilah dia dapat melihatNya dalam setiap sesuatu. Dan barangsiapa yang fana dgn Allah,maka samarlah dia dari segala sesuatu. Dan barangsiapa cinta pada Allah maka dia tidak akan mengutamakn sesuatu ke atasnya.'

Beruntunglah orang2 yang mengenal (makrifat) pada Allah Ta'ala. Dia tahu Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui segalanya. Jadi dalam segala yg dilihat,didengar dan dirasa akan sentiasa ingatannya pada Allah. Kefanaannya pada Allah menyebabkan segala sesuatu yg berada di hadapannya kosong. Dan kecintaannya pada Allah Ta'ala menyebabkan dia tidak akan mengutamakan nafsu apatah lagi pandangan makhluk selain untuk Allah semata.

Marilah kita belajar mengenal Allah agar brtambah2 rasa cinta padaNya.Semoga Allah memelihara hati kita untuk sentiasa ikhlas dalam segala prbuatan demi redha Allah semata2.

Ilahi Anta maqsudi..redhaKa mathlubi..

Thursday, April 29, 2010

Buat hati kita yang sering terlupa


Perjalanan kehidupan yang memerihkan membuatkn kita seringkali lupa. Dalam kekalutan dunia sekarang,masing2 sibuk mengejar harta,pangkat,nama,kereta,banglo dan segala kenikmatan yang ada. Berlumba-lumbalah dalam kemewahan hingga terlupa segalanya. Semakin hari kita semakin melupai ALLAH Ta'ala..semakin banyak melakukan dosa...semakin jauh dan jauh dari ALLAH Ta'ala..nauzubillah minzalik.

Sesungguhnya beringatlah bahawa ISLAM yang kita anuti bukan sekadar agama sahaja,bukan sekadar solat yang kita lakukan 5 kali sehari,dan bukan hanya setakat cukup dengan puasa,zakat dan haji. Tetapi ISLAM adalah cara hidup kita yang sebenar. ISLAM merangkumi segala2nya termasuklah cara berpakaian,bertutur,belajar,bekerja,bersosial,berakhlak dan sebagainya...semuanya telah ALLAH gariskan buat kita. Sepatutnya kita berbangga kerana berada dalam agama yang benar...nikmat yang tidak ternilai harganya iaitu nikmat berada di dalam ISLAM dan iman. Namun sebaliknya sayang sekali...kitalah yang merendah2kannya,kita malu dengan agama ISLAM. Malu apabila orang lain melihat kita cuba membawa identiti ISLAM. Malah kita tidak segan silu pula mengikut budaya2 barat yang membawa kita jauh dari kehidupan ISLAM yang sebenar. Kita semakin lalai dengan kehidupan fana' yang mengasyikkan hingga terlupa ALLAH Ta'ala itu ada dan melihat setiap perbuatan kita.

Tidak patut bagi kita mengambil hanya sebahagian ISLAM dan meninggalkan sebahagian yang lain. Umpamanya sebuah rumah yang dibina hanya mempunyai dinding dan tiang sahaja. Pastinya pelik dan tidak selesa berada di rumah tanpa atap bukan?Begitulah juga kehidupan kita takkan sempurna tanpa Islam. Tapi sejauh manakah kita telah mengamalkan ISLAM dalam kehidupan?Adakalanya kita tahu bahawa ALLAH itu ada tapi kita tetap sombong pada-NYA. Kita kufur pada nikmat yang melimpah ruah hingga lupa mengucap syukur pada Pemberi Nikmat. Kita tahu adanya dosa dan pahala...dan kita juga tahu adanya syurga dan neraka....tetapi kita tidak peduli akan semua itu,kita melanggar semua perintah ALLAH Yang Maha Kuasa. Renungkan kembali layakkah kita digelar Muslim?Apalah ertinya kemewahan dan kenikmatan hidup andai diri tidak dipandangan ALLAH Ta'ala.

Renungilah sebuah hadits Qudsi, dimana Rasulullah SAW ada bersabda:
ALLAH SWT berfirman, "Aku sesuai dengan dugaan hambaKu kepadaKu dan Aku bersama dengannya ketika dia ingat kepadaKu. Jika dia ingat kepadaKu dalam hatinya, Aku pun akan mengingatinya dalam hatiKu. Dan jika dia ingat kepadaKu dalam lingkungan khalayak ramai, nescaya Aku juga akan mengingatinya dalam lingkungan khayalak ramai yang lebih baik. Dan jika dia mendekatiKu sejengkal, Aku pun akan mendekatinya sehasta. Dan jika dia mendekatiKu sehasta, nescaya Aku mendekatinya sedepa. Dan jika dia datang kepadaKu berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari." (HQR Syaikhani dan Tidmidzi dari Abu Hurairah R.A.)


Begitulah besarnya kasih sayang ALLAH Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang pada kita setiap hamba ciptaan-NYA. Andai terasa diri sudah jauh tersasar...marilah kita kembali kepada ISLAM yang sebenar.Kembalilah hati untuk sentiasa berzikir mengingati ALLAH Ta'ala. Kembalilah diri pada ALLAH Ta'ala yang tidak pernah jemu mendengar rintihan setiap hamba-NYA. Ingatlah sebesar2 kemurkaan ALLAH itu...lebih besar lagi kasih sayang-NYA.


**********************************************************************************
Rabbi...kemana lagi kah akan kami hadapkan muka ini jika ENGKAU tidak mengampunkan kami..maka dengan itu ampunkanlah segala keterlanjuran dan dosa maksiat yang telah kami lakukan YA ALLAH..kami sedar dan insaf atas setiap kelalaian kami...jadikan lah kami hamba-MU yang sebenar2 hamba.. perkenankanlah kami mencintai-MU dengan sebenar2 cinta..dan jadikanlah matlamat hidup kami hanyalah untuk-MU....

Ya ALLAH YA RAHMAN YA RAHIM..dgn Rahmat-MU yg luas,perkenankanlah rintihan hati kami ini kerana hanya pada-MU tempat kami merintih dan mengadu..aminn Ya Rabbal 'alameenn..

Thursday, November 5, 2009

Rendahkan diri dan hati



Telah berkata Al Imam Ibnu Athoillah,
Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan,sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam, maka tiada sempurna hasil buahnya.
Tiada sesuatu yang lebih bahaya bg seseorang yang beramal, daripada menginginkan kedudukan dan terkenal di tengah-tengah umum. Dan sesungguhnya sikap ini sebenarnya adalah datang dari keinginan nafsu yang utama.

Rasulullah SAW telah bersabda:
"Siapa yang merendah diri maka Allah akan memuliakannya, dan barangsiapa yang sombong (besar diri), Allah akan menghinanya."

Ibrahim bin Adham r.a. berkata:
Tidak benar-benar bertujuan kepada Allah, siapa yang ingin masyhur(terkenal).

Ayyub Assakh-tiyaany r.a. berkata:
Demi Allah tiada seorang hamba yang sungguh-sungguh ikhlas pada Allah, melainkan ia merasa senang,gembira jika ia tidak mengetahui kedudukan dirinya.

Muadz bin jabal ra. berkata, Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya sedikit riya itu sudah termasuk syirik. Dan sesiapa yang memusuhi seorang waliyullah bererti telah berperang dengan Allah, dan Allah kasih kepada hamba yang bertaqwa yang tersembunyi (tidak terkenal), apabila ketidaanya tidak dicari, bila hadir tidak dipanggil dan tidak dikenal. Hati mereka sebagai pelita hidayah, mereka terhindar dari segala kegelapan kesukaran."

Abu Hurairah r.a telah meriwayatkan sebuah kisah: Ketika kami di majlis Rasulullah SAW tiba-tiba Rasulullah SAW berkata: Esok pagi akan ada seorang ahli syurga yang bersembahyang bersama kamu. Abu Hurairah berkata:Aku berharap akulah orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW itu. Maka pagi2 aku sembahnyang di belakang Baginda dan terus menetap di majlis itu setelah yang lain pulang. Tiba-tiba ada seorang hamba berkulit hitam datang berjabat tangan dengan Rasulullah SAW sambil berkata: Ya Nabiyallah, doakan semoga aku mati syahid. Maka Rasulullah SAW pun berdoa. Sedang kami pula mencium bau kasturi dari badan hamba itu. Kemudian aku bertanya: Siapakah orang itu? Jawab Nabi SAW:Ya Benar. Ia hamba sahaya dari Bani fulan.

Abu Hurairah berkata: Mengapa tidak kau beli saja dan kau merdekakannya ya Nabiyallah? Jawab Nabi: Bagaimana aku akan dapat berbuat demikian, bila Allah akan menjadikannya seorang Raja di syurga. Hai Abu Hurairah, sesungguhnya di syurga itu ada raja dan orang2 terkemuka. Dia ini adalah salah seorang dari mereka itu. Hai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah kasih kepada makhluknya yang suci hati, yang samar, yang bersih, yang terurai rambut,yang kempis perut kecuali dari hasil yang halal, yang bila masuk mengadap raja-tidak diizinkan, bila meminang wanita bangsawan-tidak diterima, bila tidak ada-tidak dicari, bila hadir-tidak dihirau, bila sakit-tidak dijenguk, bahkan bila mati-tidak dihadiri jenazahnya.

Ketika sahabat bertanya: Tunjukkan kepada kami seseorang dari mereka? Jawab Nabi: Iaitu Uwais Al Qarni, seorang berkulit coklat, lebar kedua bahunya, sederhana tingginya, selalu menunduk kepalanya sambil membaca Al Quran, tidak terkenal di bumi tetapi terkenal di langit, andaikan ia bersungguh-sungguih minta sesuatu kepada Allah pasti diberiNya. Di bawah bahu kirinya ada bekas belang sedikit. Hai Umar dan Ali jika kamu bertemu padanya, maka mintalah kepadanya supaya dibacakan istighfar untukmu.

(dipetik dari Kitab Al Hikam-Syaikh Ibnu Atho'illah)

Syair Rabiatul Adawiyah:
كلهم يعبدك من خوف النار ويرون النجاة حظا جزيلا

او بان يسكنوا الجنان ويحظوا بقصور ويشربوا سلسبيلا

وانا ليس لى فى النار ولا الجنة رغب انا لا ارضى بحبى بديلا

"Mereka menyembah Mu kerana takutkan neraka, dan beranggapan lepas daripada azabnya satu kejayaan yang besar. Ataupun kerana ingin menghuni syurga dan memperolehi mahligai dan minum air salsabila. Akan tetapi aku bukanlah menyembaMu kerana untuk lepas daripada neraka atau untuk mendapatkan syurga, aku tidak rela cintaku ditukar ganti."

[Merendahlah wahai diri dan hati..moga dikasihi ALLAH Ta'ala dan penghuni langit. Semoga ALLAH Ta'ala menggolongkan diri kita di kalangan para mukhlisin dan muttaqin..aminn Ya Rabb~]


Monday, October 12, 2009

Utamakan pandangan ALLAH melebihi pandangan manusia


Ikhlas. Mudah di sebut namun susah untuk didapati. Diibaratkan oleh seorang sahabat r.a. umpama semut hitam di atas batu hitam di malam yang pekat gelap. Begitulah susahnya mencapai darjat keikhlasan ini. Syeikh Al Khushairi seorang pengasas Tasauf menerangkan bahawa ikhlas itu ialah mengerjakan ibadah kerana ingin memperdekatkan diri kepada Allah s.w.t. bukan kerana untuk mencari kesayangan orang atau sesuatu hal yang lain selain daripada Allah Tuhan yang menjadikan kita.

Orang yang tidak mempunyai keikhlasan hati bererti dia hidup dan bekerja hanya untuk dorongan hawa nafsu sahaja yang merugikan diri sendiri saja. Padahal ALLAH TA'ala memerintahkan kita semua beramal dan beribadat dengan keikhlasan hati. Segala pengabdian diri terhadap Allah hendaklah dilakukan seikhlas-ikhlasnya dengan penuh kebenaran, keadilan, kebijaksanaan dan kesabaran, sepertimana firman Allah s.w.t. di dalam surah Al-A'raf

Maksudnya: "Hadapkanlah muka kamu dengan lurus, tulus dan ikhlas tiap-tiap mengerjakan sembahyang dan serulah Tuhanmu sambil mengikhlaskan diri kepadaNya"


Musuh utama bagi IKHLAS adalah RIYAK,UJUB,TAKBUR dan seangkatan dengannya. Sifat-sifat ini adalah racun berbisa yang dicucuk oleh syaitan yang adakalanya menyusup masuk ke hati tanpa kita sedari. Bagi yang sedar pula,susah baginya untuk menghindar dan bisanya mazmumah ini yang mana ia sangatlah berbahaya hingga boleh melumpuhkan iman dan tauhid manusia.

Muadz bin Jabal r.a. berkata:bersabda Rasulullah SAW:
"Sesungguhnya sedikit riya' itu sudah termasuk syirik. DAn siapa yang memusuhi seorang waliyullah, bererti telah berperang dengan Allah. Dan Allah kasih sayang pada hambaNya yang taqwa."

Keikhlasan seseorang dalam amal perbuatannya tidak boleh dinilai melalui luaran sahaja. Hati yang ikhlas akan terpancar pada amalannya yang bersih dari riya' yang jelas mahupun yang samar.Keikhlasan seseorang yang abrar biasanya terarah kepada pahala yang dijanjikan Allah terhadap hambaNya yang ikhlas yang mengambil ayat "iyyaKa na'budu"(Hanya pada Mu kami menyembah dan tidak kami persekutukan Engkau dalam ibadat ini kepada sesuatu yang lain).

Keihlasan seseorang yang muqarrabin(dekat) pula ialah yang menerapkan pengertian "Laa haula wala quwwata illa billah" : Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Tiada langsung kekuatan melainkan semuanya daripada Allah semata-mata. Golongan ini merasakan setiap amal dan ibadatnya hanyalah semata-mata kerana kurnia Allah padanya, bukan kerana ilmunya mahupun kekuatannya sendiri. Ini diambil dari ayat "iyyaka nasta'in": (Hanya padaMu kami mengharap bantuan pertolongan.)

Rasulullah SAW ada bersabda,
"Barangsiapa merendah diri, Allah akan memuliakannya dan barangsiapa meninggi diri Allah akan menghinanya"

Menurut Imam Al-Ghazali, keikhlasan itu sememangnya susah untuk didapati namun perlulah kita berusaha mendidik hati ke arah keikhlasan itu. Umpama seorang ibu yang mendidik seorang anak untuk mengerjakan solat,di awalnya pasti akan dipaksa dahulu sang anak untuk bersolat,bukan datang dari keinginan nya sendiri. Begitu juga dalam kita bekerja apatah lagi beribadat. Jangan jadikan statement "takut tidak ikhlas" sebagai alasan untuk tidak melaksanakan ibadat. Paksalah diri untuk melakukannya dengan niat untuk mencapai redha Allah dan mengharap balasan pahala darinya. Cuba untuk ikhlaskan sehabis mungkin meskipun pasti akan dicemari juga pada awalnya dengan rasa tidak ikhlas.

Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”

Bagi orang-orang 'alim pula berhati-hatilah dengan ilmu yang ada jangan sampai hilang keikhlasan dan timbul riyak atas kelebihan ilmu yang dimilikinya. Ibrahim bin Adham pernah berkata, tidak benar-benar bertujuan kepada Allah siapa yang ingin masyhur. Orang yang hatinya sentiasa ingin masyhur,dipandang,dipuja dan dipuji manusia lain bermaksud hatinya telah bernanah dengan bisa sifat riyak ini.

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap redha-Nya.”

Sentiasalah kita bermuhasabah pada setiap amalan kita. Utamakan pandangan ALLAH Ta'ala melebihi pandangan manusia. Takut-takut di akhirat sana nanti tiada apa yang tinggal untuk dipersembahkan pada Allah Ta'ala. Moga-moga Allah Ta'ala memelihara kita daripada sifat riyak ini. Ikhlaskanlah hati dan jiwa kita hanya mengharap kan Redha dari Allah semata-mata.

La haula wala quwwata illa billah.
Astaghfirullah al adzim.

Saturday, October 3, 2009

Jangan sia-siakan hidup,jangan malas!


Pernahkah dihitung berapakah masa yang dipinjamkan Allah dalam sepanjang umur kita hingga kini? Berapa banyak pula yang telah kita manfaat kan dengan sebaiknya? Umar bin al Khattab RA menulis surat untuk sebagian pegawainya , muhasabahlah dirimu dalam keadaan senang sebelum dimuhasabah pada saat susah, sesungguhnya orang yang menghisab dirinya disaat senang sebelum datang kesusahan (kiamat), maka urusannya akan menjadi ridha, dan barang siapa yang menuhankan hidupnya, dan disibukkan oleh hawa nafsunya, maka urusannya akan berakhir dengan penyesalan dan kerugian.

Sedar ataupun tidak kita banyak mensia-siakan umur yang dipinjam Allah dan membuang masa dengan pelbagai perkara yang tidak bermanfaat. Yang menyedihkan ramai anak muda masa kini malas bekerja dan sekadar menghabiskan masa dan harta orang tuanya hanya untuk hiburan. Masa yang ada sentiasa terisi dengan menonton televisyen,mendengar radio,makan,bergelak ketawa,berchatting,membeli belah,berjalan-jalan dan macam-macam lagi yang tidak membawa keuntungan sedikitpun. Kalaupun rasa ingin bekerja datang hanyalah pada pekerjaan yang menjanjikan glamour seperti penyanyi,pelakon dan model. Yang ada di kepala mereka hanyalah untuk hidup senang-lenang,santai,berhibur dan memenuhi segala kehendak nafsu duniawi.

Rasulullah SAW pernah berpesan, "Allah benci kepada pemuda-pemuda yang menganggur (malas)."

Imam Al Ghazali menerangkan Allah membenci dengan pemalas dan penganggur kerana orang yang pemalas itu hakikatnya khalayannya yang akan bekerja. Yang kelihatan diam dan santai hanyalah tubuh luarannya saja. Sedang khayal dan lamunannya akan tetap berjalan ke sana sini melahirkan banyak angan-angan kosong yang menipu. Di saat itu adalah saat yang paling mudah untuk musuh Allah iaitu syaitan menggoda. Digodanya manusia supaya terus berada dalam dunia khayalan hingga lalai mengingati Allah. Dicucuk nya juga rencana-rencana kejahatan yang akhirnya menjerumus manusia ke lembah kehinaan.

Malas sebenarnya adalah cabang-cabang daripada sifat putus asa. Padahal Allah telah melarang tegas hambaNya daripada sifat ini yang boleh membawa kepada kekufuran. Jangan sesekali pernah berhenti berharap dengan apa yang ada di bumi dan jangan pernah kita berputus asa dengan Rahmat Allah yang luas. Ada orang yang berputus asa adalah kerana malas berusaha lebih atau terlalu mudah menyerah kalah dengan suatu musibah yang menimpa. Padahal Allah menegaskan tidak terjadinya musibah di dunia ini melainkan hasil dari tangan-tangan manusia itu sendiri. Cuba muhasabah kembali di mana kekurangan diri dan sentiasa bertawakkal kepada Allah,sentiasa mengingati Allah. Ingatlah firman Allah,
"Apabila telah ditunaikan sembahyang,maka bertebaranlah kamu di permukaan bumi, dan carilah kurnia Allah dan ingatlah Allah dengan sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung."(Al Jum'ah ayat 10)

Bagi seorang mukmin, bekerja adalah suatu ibadah manakala malas akan hanya merugikan diri dan mengundang murka Allah. Berhasil atau tidak suatu pekerjaan bukan menjadi matlamat utama namun semata-mata mengharap redha dan rahmat Allah. Kerana itulah keberhasilan dan keuntungan yang paling bernilai adalah kebahagiaan di akhirat yang kekal abadi. Bahkan dalam sebuah hadis dikatakan bekerja sebagai berjuang di jalan Allah, "sabilillah".

Suatu ketika, di zaman Rasulullah SAW, datang seorang lelaki yang berbadan tegap dan sihat di hadapan Rasulullah. Ini mengundang rasa kagum pada sahabat-sahabat Rasulullah. Salah seorang daripada sahabat berkata' "Ya Rasulullah, alangkah baiknya jika seorang lelaki itu memanfaatkan tubuhnya yang gagah itu untuk berjuang di jalan Allah?" Lalu Rasulullah bersabda,
" Jikalau ia keluar dari rumahnya untuk mencari nafkah bagi anak-anak yang masih kecil, dia berjuang di jalan Allah. Jika dia mencari nafkah untuk orang tua nya yang sudah tua itupun dikira berjuang di jalan Allah. Namun, jika dia bekerja hanya untuk bermegah-megah, maka itu berusaha di jalan syaitan."
(Hadis Riwayat Baihaqi)

Pernah juga diceritakan pada suatu ketika datang seorang lelaki kepada Rasulullah SAW meminta wang padahal kelihatannya masih sihat dan kuat,mampu bekerja. "Apakah di rumahmu itu tiada suatu apapun?"tanya Rasulullah SAW. DAn lelaki itu menjawab bahawa di rumahnya hanya tinggal dua lembar kain tebal, satu yang sedang dipakainya dan satu lagi untuk alas bilik rumah serta sebiji gelas untuk minum. Lalu Rasullah SAW bersabda, "Ambillah dan bawa kemari!". Kemudian dilelongnya di hadapan sahabat-sahabat dan laku sebanyak dua dirham.Satu dirham diperintahkan untuk membeli keperluan keluarga dan satu dirham diperintahkan untuk membeli sebuah kapak.

" Pergilah dengan kapak ini, jangan menghadapku sampai15 hari, bekerjalah dengan kapak mu itu."
Dan setelah 15 hari berlau, lelaki itu kembali bejumpa Rasulullah SAW. Dengan perasaan puas dan bangga ia menunjukkan hasil kerjanya selama ini, sehingga memperoleh wang sebanyak 10dirham. Dan Nabi SAW dengan tersenyum bersabda,

"Beginilah yang sebaik-bainya bagi kamu,daripada meminta-minta. Kerana ketahuilah meminta-minta itu akan menjadi titik hitam yang mencemarkan wajahmu nanti pada hari kiamat. Tak patut seseorang itu meminta melainkan 3 sebab iaitu, bagi seorang fakir yang benar-benar tertekan hidupnya, atau yang bertimbun hutangnya atau bagi seseorang yang menanggung denda berat kerana urusan darah."

( Hadis Riwayat Abu Daud, Al Baihaqi dan Tirmizi)

Oleh itu, buang jauh-jauh sifat malas itu, berhenti daripada sikap hanya ingin berhibur, bangun dari tempat dudukmu dan mulalah menikmati keindahan dunia ciptaan Yang Maha Indah ini. Dunia diciptakan Allah dengan bermacam kekayaan untuk dikecapi nikmatnya oleh hamba-hambaNya yang sentiasa rajin dan tidak pernah berputus asa. Bertebaranlah di muka bumi ini mencari rezeki yang telah dijanjikanNya. Selagi masih ada nyawa yang dipinjam Allah,laburkanlah ia pada perkara yang bermanfaat dan membawa keuntungan di dunia dan akhirat. Jangan sia-siakan hidup ini. Jadilah hambaNya yang bersyukur dan bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa.

Lahaulawalaquwwata illa billah.
Astaghfirullah al adzim.

Saturday, September 26, 2009

Kembali pada Pencipta

Setiap manusia yang lahir ke dunia ibarat kain putih bersih yang suci daripada sebarang corak dan warna yang mengotorinya. Setiap kejadian ciptaan Allah Ta’ala sememangnya indah dan kejadian manusia merupakan bukti paling agung kewujudan Dia sebagai Tuhan Yang Esa yang menjadikan setiap makhluk. Namun berapa ramai di antara kita tahu tujuan sebenar hidup mereka di atas muka bumi ini? Sesungguhnya sedarlah wahai diri kehidupan di dunia ini hanyalah sebagai sebuah persinggahan dalam rangka menuju kehidupan abadi di akhirat sana. Tujuan kewujudan manusia di atas muka bumi ini tidak lain adalah untuk melaksanakan ibadat dan ketaatan pada Pencipta yang meminjamkan sebentar nyawa.

Firman Allah Ta'ala,
"Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadat kepadaku."

Dalam perjalanan yang singkat kembali semula kepada Pencipta banyak halangan yang mendatang. Hanya mereka yang terpilih oleh Allah Ta’ala sahaja akan berjaya menempuhinya. Allah Ta’ala Maha Penyayang kepada setiap hambaNya. Diutuskan olehNya Rasul-Rasul yang terpilih untuk menjelaskan hakikat sebenar kehidupan manusia di dunia ini. Betapa kasihnya Allah pada kita, tidak dibiarkan manusia kesesatan di dunia yang penuh cubaan ini. Diilhamkan juga pada setiap manusia naluri berTuhan dan naluri untuk melakukan kebaikan.

Syaitan laknatullah dan juga nafsu jahat tidak akan pernah berhenti menggoda manusia agar terpesong dari jalan kebenaran. Sentiasa berusaha menjauhkan manusia dari petunjuk Allah Ta’ala. Menjauhkan manusia daripada ayat-ayat Allah dan pesanan-pesanan Rasulullah SAW. Rugilah manusia yang berpaling dari Al-Quran dan Hadith yang sentiasa mengingatkan di saat lupa . Hidup hanya terbatas di dunia ini sahaja dan bercita-cita untuk memenuhi segala keinginan duniawi yang melalaikan. Mereka memandang segalanya terbatas hanya berdasarkan pengetahuan malah menganggap kehidupan akhirat tidak benar sama sekali. Bangga dengan diri sendiri lantaran ilmu yang dirasakan penuh didada lalu mengabaikn ayat-ayat Allah. Mereka akan akhirnya terjerumus ke dalam neraka bersama-sama syaitan di akhirat kelak.

"Sesungguhnya kekuatan/kekuasaan syaitan itu hanya pada orang -orang yang berwali padanya (menurut pada pimpinan/bisikan-bisikannya, dan dengan itu mereka menyekutukan Allah) (An Nahl:100)

Beruntunglah setiap manusia yang berjaya menempuhi setiap cubaan yang datang. Namun pesan pada diri semuanya bukan kerana diri sendiri malahan dengan Rahmat dan Kasih Sayang Allah yang Maha Agung yang mengurniakan hidayahNya. Tidak ada sebarang kejadian di dunia ini yang berlaku melainkan dengan kehendak Allah. Masuknya seseorang hamba ke syurga bukan kerana pangkat,darjat,keturunan,rupa apatah lagi hartanya, melainkan dengan Rahmat dan belas kasihan Allah jua.

Jika di saat ini kita merasakan diri kita hina dan penuh dosa di hadapan Allah, cepatlah memohon taubat padaNya. Dia tidak pernah mengabaikan setiap hambaNya apatah lagi yang mereka yang memohon ampunan dan Rahmat dari pada Nya dengan penuh kesungguhan. Kembalilah kepada Allah Pencipta yang menjadikan kita. Jangan sesekali berputus asa dalam mencari sinar hidayah buat menerangi kehidupan yang dirasakan umpama dalam kegelapan.

"Katakanlah:Hai hambaKu yang telah keterlaluan menjerumuskan diri (berbuat dosa), jangan kamu putus harapan dari Rahmat Allah, sesungguhnya Allah sanggup mengampunkan semua doa, Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang." (Az Zumar:53)

Perjalanan kearah kebenaran tidak dijadikan Allah indah dan mudah umpama seorang artis yang dibentangkan karpet merah malah akan sentiasa diselangi dengan onak duri yang meranjau. JIka kita mengimbas kembali bagaimana kehidupan para Rasul dan sahabat yang tidak pernah sunyi dari penderitaan pasti kita akan menyedari,betapa beruntungnya kita. Oleh itu gunakanlah kesempatan umur yang masih bersisa ini untuk terus mencari keredhaan Allah. Kerana tanpa redha Allah tiadalah erti kita disisi Allah. Rahmat dan keredhaan Allah menjadi misi utama dalam meraih cinta-Nya yang hakiki. Dan ingatlah wahai diri di saat ujian datang bertimpa-timpa,mohonlah padaNya kerana Allah itu dekat dan sentiasa bersama kita. Semoga Allah memudahkan perjalanan kita kembali ke sisiNya.

"…maka Allah mengetahui apa yang ada di dalm hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberikan balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat(waktunya)." (Al Fath:18)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tuhan dosaku menggunung tinggi
Tapi taubatku tak ku tepati
Tuhan RahmatMU melangit luas
Namun sedikit sekali ku bersyukur…
Tiada daya untuk bertahan…hanya Engkau tempat berpegang..
Kau jagalah hati yang kadang redup..ditiup angin duniawi…
Gemerlap kilauan harta,takhta dan cinta manusia..yang menyesatkan…

Ilahi.. daku berlindung kepadaMu dari jiwa yang tidak pernah merasa puas..
Ilahi.. jangan Engkau tinggalkan aku dengan diriku sendiri walau sekelip mata cuma…pimpin daku pada jalanMu yang lurus..ampunilah hamba yang penuh dosa ini Ya Allah..
Ilahi..Anta maqsudi wa redhaKa mathlubi…ameen Ya Rabbal ‘alameen..

Laa haulawalaquwwata illa billah.
Astaghfirullah al adzim.


Wednesday, September 16, 2009

Linangan Kerinduan

Seorang anak yatim merenung ke dalam dirinya. Dia melihat ada kekosongan yang menimbulkan persoalan untuk dijawab. Dari manakah asalnya? Siapakah “asal” dirinya? Dia tidak muncul tanpa asal kerana setiap yang wujud daripada “tiada” pasti ada “asal”nya.

Dia mula melihat keriangan kanak-kanak di sekelilingnya. Mereka bermain di taman permainan dengan penuh ria. Berlari di padang lapang berpimpinan tangan dengan dua insan mulia. Seorangnya lelaki dan seorang lagi wanita. Kuntuman senyuman budak yang dipimpin oleh dua orang dewasa tersebut menjawab kekosongan dalam diri si anak yatim tadi. Jawapan bagi "asal”nya dari sudut biologi adalah “kedua ibu bapa”. Biarpun tidak pernah melihat atau tidak pernah mengenali kedua ibu bapanya, namun gelora kerinduan fitrah terhadap kedua ibubapanya makin membuak tatkala mula menghayati “asal” diri daripada mereka. Terasa “tiada” kasih sayang “asal” walaupun mendapat kasih sayang keluarga angkat atau penjaga. Namun, manakan sama kasih sayang “asal” dengan kasih sayang tumpangan.

Seseorang yang mencapai minda yang lebih matang akan melihat “asal” diri dan alam ini lebih meluas. Dia melihat hatta ibubapanya juga berasal daripada tiada kepada ada. Bahkan, alam yang menjadi tempat bagi makhluk juga mempunyai asal hakiki kerena semuanya berasal daripada “tiada”.

Maka, insan yang kerdil mula merenung ke dalam diri. Segala isi alam tenggelam dalam luahan mencari makna “asal” diri sendiri. Dari mana diri? Dari mana seluruh makhluk yang menghiasi di sekeliling diri? Hati yang mencari terus mencari sehingga benih ingin lebih mengetahui tentang “asal” diri terus bercambah. Dari kehendak yang tinggi untuk lebih mengetahui kepada kerinduan terhadap “asal” yang dicari.

Dia mula mencari ruang barang sejenak dua, untuk memuhasabah diri dan memikirkan hakikat keagungan makna yang dicari. Ruang sunyi dihiasi dengan ingatan dan fikir yang tulus suci. Ketika fitrah mula berbicara, akal mula menjadi pemerhati yang setia. Intipati “tauhid murni” dalam fitrah mula menzahirkan maknanya. Hati mula menerimanya dengan penuh rela. TAUHID MURNI seraya berkata: “HUWA ALLAH” (DIALAH ALLAH). Dialah yang kamu cari wahai insan. Dialah yang kamu rujuk sebagai “asal” hakiki seluruh makhluk ini. Dialah Maha Pencipta yang telah menciptakanmu.

Jawapan halus dari lafaz “ALLAH” mula memendam makna di seluruh jiwa. Lafaz yang mengandungi seluruh makna ketuhanan yang membumikan makna kehambaan dalam diri sang hamba yang menghayatinya. Maka, tali hubungan kehambaan kepada ALLAH yang menyimpan rahsia ketuhanan mula membenihkan “kelazatan” dalam rasa kehadiran. ILAHI… kata diri berbicara merintih diperhati. ‘ABDI… (HambaKu)… Seru Maha Cinta Abadi nan Hakiki.

Ketika dalam kesunyian itu, seruan semakin rancak. Yang berbicara terus berbicara. Yang menjadi pendengar terus setia. Hanya yang ada, cinta dengan cinta. Itulah ruang kesunyian yang bisa menjernihkan kekaratan nafsu duniawi. Aaahh.. Benarlah sabda Nabi -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- yang bermaksud:

“Tujuh golongan yang dinaungi di bawah naungan Allah pada hari yang tiada naungan melainkan naunganNya… Antaranya: Seorang lelaki yang mengingati ALLAH dalam keadaan bersendirian lalu berlinangan air (dari) matanya…”

Ia adalah tangisan rindu. Ia adalah tangisan dalam menzahirkan keinginan untuk kembali bersama “asal” hakiki yang Maha Menciptakan. Ia adalah linangan mencari pertemuan dalam keabadian cinta.

Hidup ini terlalu lama untuk menterjemahkan pertemuan dua cinta. Bagaimana agar bisa terus melihatMu setelah kembali melihat dunia? Bagaimana bisa ku berinteraksi denganMu ketika keluar dari kesunyian ini menuju kesesakan dunia? Hidup yang mempunyai seribu satu cerita punya misteri sendiri. Namun, usia dari awal kelahiran sehingga ajal yang entah bila seolah-olah menjarakkan lagi pertemuan yang agung. Namun duhai sang hamba, lihatlah segala di sekelilingmu sebagai interaksi Tuhanmu kepadamu, nescaya itu yang akan terus mengikat kerinduanmu kepadaNya.

Ketika dikau melihat si ibu mendukung si anak dengan penuh kasih, lihatlah bahawasanya ia adalah limpahan dari kasih sayang Allah s.w.t.. Si ibu menyayangi si anak tersebut dengan kasih sayang Allah s.w.t. yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepadanya lalu dia (si ibu) memberi kasih itu kepada anaknya. Si anak kecil yang merasa selesa dalam dakapan ibunya sebenarnya selesa dalam “dakapan penjagaan” Allah s.w.t. yang dizahirkan dalam dakapan si ibu tersebut.

Apabila dikau melihat kicauan burung menyanyikan lagu rindu, tiupan angin membawa nyaman, pepohonan melambai ria, haiwan ternakan meragut rumput di padang, sungai yang mengalir membicarakan kedamaian dan cahaya mentari menyinar riang di balik bukit nan tersergam, maka lihatlah keindahan Allah s.w.t. melalui keindahan makhluk-makhlukNya tersebut. Makhluk-makhluk adalah cerminan sifat Allah s.w.t. melalui perbuatanNya.

Dengan demikian, kamu akan terus fokus terhadap DIA yang kamu cari. Bahkan, kamu akan terus mengerti yang hanya DIA yang kamu cari dalam hidup ini. Ramai manusia mencari apa yang belum pasti, sedangkan dia menuju apa yang pasti. Manusia yang bijak adalah, dia hanya mencari dan menuju apa yang pasti. ALLAH s.w.t.-lah yang pasti lagi hakiki. Tangisanmu biar terarah kepada mencariNya, agar jiwamu puas hanya dengan merinduiNya.

Kehilangan segala-galanya selainNya adalah anugerah jika disertai dengan kehadiranNya. Mendapatkan apa sahaja selainNya adalah musibah jika disertai dengan kehilanganNya. Anda berduka bukan kerana tidak dapat apa yang anda ingini, tetapi anda berduka kerana tidak mahu apa yang sepatutnya anda ingini.

Mata jika menangis kerana sunyi dari makhluk, maka matamu adalah sebesar-besar hijab yang menjauhkanmu dari hakikat diri. Tangisan biarlah antara takut kepadaNya atau rindu kepadaNya. Rasulullah -shollaLlahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka (antaranya): Mata yang menangis kerana takut kepada Allah s.w.t…” (hadith riwayat Imam At-Tirmizi)
Rindu kepadaNya bermula dengan hati yang hanya mencari redhaNya. Hidup ini sentiasa ada lebih dari satu pilihan. Tetapi, satu-satunya pilihan yang membawamu kepada kebahagiaan abadi adalah dengan hanya memilih ALLAH sebagai tujuan. Daripada tujuan membawa kepada pengenalan. Daripada pengenalan membawa kepada kecintaan. Daripada kecintaan membawa kepada kerinduan. Semuanya bermula dengan “pencarian” yang tulus dan penuh kejujuran.

Semoga Allah s.w.t. membantu kita untuk fokus hanya mencariNya agar diberi peluang terutamanya ketika dalam kesunyian, untuk merinduiNya lalu mengalir air mata “mengharap” cintaNya. ALLAH… Ajarkanlah kami cinta agar dapat mencintaiMu dengan cinta yang Engkau redhai… Engkaulah sumber cinta sedangkan kami “rindu” untuk mencintaiMu dengan cintaMu.

Amiin…
Wallahu a’lam…
Al-Faqir Al-Haqir ila Rabbihi Al-Jalil
Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaludin Al-Azhari
‘Amalahullah bi LutfiHi Al-Khafiyy

source

Wednesday, August 19, 2009

Amalan yang dilaknat Allah SWT dan para malaikat

Imam Abdullah bin al-Mubarak R.A. telah meriwayatkan di dalam kitab Al-Zuhd dengan sanad beliau daripada seorang lelaki iaitu Khalid bin Maadan yang pernah berkata kepada Muaz:
“Wahai Muaz! Ceritakanlah kepadaku sebuah hadith yang pernah engkau dengar daripada Rasulullah s.a.w..

Lalu Muaz menagis sehingga aku sangka ia tidak dapat berhenti tetapi akhirnya Muaz berhenti daripada tangisannya kemudian lalu Muaz berkata: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. pernah bersabda kepadaku:

Wahai Muaz! Sebenarnya aku mahu ceritakan kepada kamu sebuah hadith jikalau engkau mampu memeliharanya pasti ia akan memberi manafaat akan dikau di sisi Allah tetapi jika engkau mensia-siakannya dan tidak memeliharanya maka akan terputuslah hujahmu di hadapan Allah pada hari kiamat nanti.

Wahai Muaz! Sesungguhnya Allah s.w.t. telah menjadikan tujuh orang malaikat sebelum ia menciptakan langit dan bumi lalu ditentukannya pada setiap langit seorang malaikat daripada mereka untuk menjaga pintu langit tersebut. Lalu naiklah malaikat Hafazhah membawa amalan seseorang hamba yang dilakukannya mulai dari pagi sampai ke petang. Amalan tersebut mempunyai nur bagaikan cahaya matahari, sehingga apabila malaikat Hafazhah yang membawa amalan hamba itu sampai ke langit pertama. Mereka menganggap bahawa amalan itu baik dan sangat banyak lalu berkata malaikat penjaga langit pertama itu bagi malaikat Hafazhah:

“Pukulkan dengan amalan ini akan muka orang yang mengerjakannya. Akulah malaikat penjaga ghibah (mengumpat). Allah telah menyuruhku supaya aku tidak membiarkan amalan orang yang mengumpat orang lain itu dapat melalui aku untuk terus naik ke atas”

Kemudian datang pula malaikat Hafazhah membawa amalan seseorang hamba. Mereka menganggap bahawa amalan itu sangat baik dan sangat banyak (malaikat itu berjaya melintasi langit yang pertama kerana orang yang mengerjakan amalan tersebut tidak terlibat dengan dosa mengumpat orang) sehingga mereka sampai ke langit yang kedua lalu berkata malaikat penjaga langit yang kedua itu:

“ Berhenti kamu di sini dan pukulkan dengan amalan ini akan muka orang yang mengerjakanya kerana ia mengkehendaki dengan amalannya akan mendapat keuntungan dunia. Allah telah menyuruhku supaya tidak membiarkan amalan orang seperti ini melintasi aku untuk terus naik ke atas. Selain daripad itu ia juga suka membesarkan diri di dalam majlis perjumpaan. Akulah malaikat penjaga kebesaran.”

Kemudian naik pula malaikat Hafazhah membawa amal seseorang hamba yang penuh dengan sinaran dan cahaya daripada pahala sedekah, sembahyang, puasa. Para malaikat Hafazhah merasa hairan melihat keindahan amalan tersebut lalu mereka membawa amalan itu ( melintasi langit yang pertama dan kedua) sehingga sampai ke pintu langit yan ketiga maka berkata malaikat penjaga langit ketiga itu:

“ Berhenti kamu di sini dan pukulkan dengan amalan ini akan muka orang yang mengerjakannya. Akulah malaikat takbur. Allah menyuruhku supaya tidak membiarkan amalan orang yang takbur dapat melintasiku. Orang itu sangat suka membesarkan diri di dalam majlis orang ramai.”

Kemudian naik pula malaikat Hafazhah membawa amal seseorang hamba. Amal itu bersinar-sinar seperti bersinarnya bintang yang berkelip-kelip. Baginya suara tasbih, sembahyang, puasa, haji dan umrah. Para malaikat Hafazhah berjaya membawa amalan itu sehingga sampai ke pintu langit yang keempat maka berkata malaikat penjaga kangit keempat itu:

“ Berhenti kamu di sini dan pukulkan dengan amalan ini akan muka orang yang mengerjakannya, belakang dan juga perutnya. Akulah malaikat ‘ujub. Allah menyuruhku supaya tidak membiarkan amalan orang yang ‘ujub dapat melintasiku. Ia beramal adalah dengan dorongan perasaan ‘ujub terhadap dirinya.”

Kemudian naik pula malaikat Hafazhah membawa amal seseorang hamba sehingga mereka berjaya sampai ke pintu langit yang kelima seolah-olah amalan itu pengantin yang dihantar (disanbut) ke rumah suaminya (maksudnya amalan itu berseri-seri) lalu berkata malaikat penjaga langit yang pertama:

“ Berhenti kamu dan pukulkan dengan amalan ini akan muka orang yang mengerjakannya dan campakkanya di atas tengkoknya. Akulah malaikat hasad , ia sangat hasud kepada orang berlajar ilmu dan beramal seperti amalanya. Ia hasut akan orang lain yang melakukan sebarang kelebihan di dalam ibadat, ia juga mencela mereka. Allah menyuruhku supaya aku tidak membiarkan amalan orang yang hasud ini melintasi aku.”

Kemudian naik pula malaikat Hafazhah membawa amalan seseorang hamba. Baginya cahaya seperti bulan purnama daripada sembahyang, zakat, umrah, jihad dan puasa. Malaikat Hafazhah berjaya membawa amalannya sehingga sampai ke langit yang keenam lalu berkata malaikat penjaga langit tersebut:

“ Berhentilah kamu dan pukulkan amalan ini akan muka orang yang mengerjakannya kerana ia tidak belas kasihan kepada hamba-hamba Allah yang terkena bala dan kesusahan bahkan ia merasa gembira dengan demikian. Akulah malaikat rahmat. Allah menyuruhku supaya tidak membiarkan amalan orang yang seperti ini tidak melintasi aku.”

Kemudian naiklah pula malaikat Hafazhah membawa amalan seseorang hamba. Amalan itu sembahyang, puasa, nafkah, jihad dan warak. Baginya bunyi (maksudnya bunyi zikir) seperti bunyi lebah dan baginya cahaya seperti cahaya matahari dan naiklah bersama dengan amalan itu tiga ribu malaikat. Mereka telah berjaya membawanya sehingga sampai ke pintu langit yang ketujuh maka berkata malaikat penjaga pintulangit tersebut:

“ Berhentilah kamu dan pukulkan dengan amalan ini akan muka orang yang mengerjakannya bahkan pukulkan pula akan seluruh anggota badannya dan tutupkan ke atas hatinya. Akulah malaikat zikir ( seorang yang beramal dengan tujuan supaya disebut-sebut oleh orang lain). Aku akan menghalang amalan orang riak dari sampai kepada Tuhanku. Ia bukan beramal bukan kerana mencari keredhaan Allah tetapi hanya bertujuan supaya mendapat tempat yang tinggi di hati para fukaha dan supaya disebut di kalangan para ulama dan supaya masyhur namanya di merata tempat. Allah menyuruhku supaya tidak membiarkan amalan orang yang riak itu melintasi aku, kerana setiap amalan yang tidak ikhlas adalah riak dan Allah tidak akan menerima amalan orang yang riak.”

Kemudian naik pula malaikat Hafazhah dengan amalan seseorang hamba. Amalan itu berupa sembahyang, zakat, puasa, haji, umrah, akhlak mulia, banyak berdiam (daripada perkara yang tidak berguna) dan banyak berzikir. Amalan hamba ini diusung oleh para malaikat penjaga tujuh petala langit sehingga mereka melintasi segala halangan dan sampai kepada Allah. Para malaikat itu berhenti di hadapan Allah dan bersaksi dengan keikhlasan dan kebaikan amalan tersebut lalu Allah ber firman kepada paraa malaikat –Nya:
“ Kamu adalah yang bertugas menjaga amalan hambaKu ini dan sebenarnya Aku lebih mengetahui dengan segala isi hatinya. Ia sebenarnya tidak mengkehendaki akan Aku dengan amalannya tersebut. Ia hanya mengkehendaki sesuatu yang lain daripadaKu oleh kerana itu maka Aku turunkan ke atasnya akan laknatKu.”

Lalu para malaikat tadi berkata:
“Ke atasnya laknatMu dan juga laknat kami.”
Lalu melaknat akan dia oleh tujuh petala langit dan seisinya.

Mendengar sabda Rasulullah s.a.w. ini lalu Muaz menangis seraya berkata:
“Engkau adalah Rasulullah s.a.w. sedangkan aku adalah Muaz (hamba Allah yang bukan Rasul). Maka bagaimana aku dapat selamat dan sejahtera”.

Lalu Rasulullah s.a.w. menjawab:

“Hendaklah engkau ikuti aku walaupun hanya dengan sedikit amalan. Wahai Muaz jaga lidahmu baik-baik daripada mencela saudaramu yang membaca al-Quran (golongan ulama) dan pertanggungkanlah segala dosamu ke atasmu dan jangan engkau mempertanggungkan dosamu ke atas mereka dan jangan engkau menganggap dirimu bersih dan jangan pula engkau mencela orang lain dan jangan engkau memuji dirimu di hadapan mereka .
Dan jangan engkau campurkan urusan dunia di dalam urusan akhirat . Dan jangan engkau menyombong diri di dalam majlis
nanti orang ramai akan takut kepadamu kerana kejahatanmu dan jangan engkau berbisik kepada seseorang sedangkan seorang lagi ada di sisimu dan jangan engkau membesarkan dirimu , maka akan terputus daripadamu segala kebaikan di dunia dan di akhirat. Dan jangan engkau carikkan (pecah belah) akan manusia, maka mencarik akan dikau oleh anjing-anjing api neraka pada hari kiamat nanti. Allah berfirman yang bermaksud:“ Demi yang mencarik dan carikkan .” (al-Nazi’at: 2) Apakah engkau ketahui wahai Muaz siapakah mereka yang mencarik itu? Muaz bertanya: “Ya Rasulullah, sebenarnya siapa mereka?” Lalu Nabi s.a.w. menjawab: “Itulah anjing-anjing garang di dalam api neraka yang akan mencarikkan daging sehingga sampai ke tulang.”
Muaz bertanya:
“Ya Rasulullah siapakah yang mampu melaksanakan segala perkara yang engkau sebutkan tadi? Dan siapakah yang akan selamat daripada seksaan itu?”
Nabi s.a.w. mwnjawab:
“Itu sebenarnya mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah”

Kemudian lalu Khalid bin Maadan berkata:
“Maka aku tidak pernah melihat seseorang yang banyak membaca al-Quranul Karim
lebih daripada Muaz kerana beliau faham terhadap hadith yang besar ini.”

~dipetik dari kitab Bidayatul Hidayah-Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali



Friday, August 14, 2009

Musibah itu nikmat bagi orang-orang soleh

Kehidupan di dunia tidak akan pernah sunyi dari dugaan dan musibah kerana itulah tujuan dunia diciptakan oleh Allah SWT iaitu sbg tempat menguji hambaNya. Ia juga dpt membezakan antara mereka yang beriman dengan tidak. Sifat orang-orang yang mempunyai iman di hatinya adalah tetap sabar dan redha atas apa jua ujian yang datang. Tidak kira sebesar mana ujian yang menimpanya hatinya tetap teguh dalam beriman dan yakin dengan ketentuan Tuhannya. Allah SWT tidak menjadikan ujian sebagai penutup bagi segala kenikmatan malah ia membuka jalan untuk kita mencapai nikmat cinta dan hampir (taqarrub) pd Allah Ta'ala.

Telah berkata Junaid Al Baghdadi, " Bala merupakan pelita orang arif, menyedarkan orang murtad, memperbaiki orang mukmin dan menghancurkan orang yang lengah (lupa). Tidak seorang pun akan mendapat manisnya iman sebelum dia ditimpa bala,rela dan sabar. "

Rasulullah SAW juga bersabda, "Barangsiapa sakit semalam, dia sabar dan rela kepada Allah, maka bersih daripada dosa bagaikan ketika dia lahir dari perut ibunya. Jika engkau sakit janganlah segera meminta sembuh."

Telah berkata Adl Dlahak ra, "Barangsiapa tidak diuji antara tiap-tiap 40 hari dengan suatu bala, kedukaan atau musibah, maka tidak ada kebaikan baginya di sisi Allah".

Daripada Muaz bin Jabal ra, beliau berkata, "Ketika Allah menguji hamba yang mukmin dengan suatu bencana, Dia berkata kepada (malaikat) pencatat amalan buruk, "Hapuskan amalannya" dan berkata kepada (malaikat) pencatat amalan baik "Tuliskan untuk hambaKu yang lebih baik daripada apa yang dia perbuat."


Laa haulawalaquwwata illa billah.
Astaghfirullah al adzim.

Thursday, July 2, 2009

Buta

1. BUTA HATI

Hati apabila telah menjadi buta, ia tidak akan mengenal ALLAH; tidak kenal kebenaran dan kebaikan lagi. Dari sini timbullah penyakit-penyakit mazmumah (keji) seperti tidak ada perasaan timbang rasa, tidak ada rasa syukur dengan rahmat dan nikmat ALLAH, tidak rasa berdosa dan bersalah apabila melakukan maksiat dan kesalahan, tidak terasa lagi kebesaran ALLAH semasa melihat alam yang indah ini, tidak ada rasa jijik lagi dengan kemungkaran, tidak terasa hina diri di hadapan Tuhan, dan tidak rasa lagi dirinya diperhati dan dilihat oleh Tuhan.

Oleh kerana ia telah buta, hati hanya semata-mata berperanan mengikut pimpinan hawa nafsunya yang jahat; yang memang hendak mempengaruhi hati sebagai raja dalam kerajaan diri agar dia dapat mengarahkan segala rakyat jelata dalam diri seperti mata, telinga, hidung dan sebagainya melakukan kemungkaran dan kejahatan.

Akibatnya seorang insan itu akan berkelakuan bagaikan kelakuan syaitan seperti mengadu-domba, tamak, memfitnah, sombong atau berkelakuan haiwan yang hanya memikirkan makan minum, seks, hiburan, dan sebagainya. Demikianlah bila hati sudah buta; yang memimpinnya adalah nafsu. Sewaktu buta itu, hati sudah tidak berperanan lagi, sebaliknya nafsulah yang mengambil alih tempatnya (sebagai raja).

Ertinya ia sudah tidak berperanan mengikut tabiat semulajadinya lagi. Inilah yang. dimaksudkan oleh ALLAH Ta'ala seperti dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Kami peruntukkan untuk Neraka jahanam kebanyakannya terdiri dari jin dan manusia; bagi mereka ada hati, (tetapi) tidak mahu memahami (isi Al Quran) dengan hatinya; dan bagi mereka ada mata, (tetapi) tidak mahu melihat dengan matanya dan bagi mereka ada telinga (tetapi) tidak mahu mendengar dengan telinganya. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al A`raf:179)

2. BUTA AKAL

Orang yang buta akal ialah orang yang akalnya tidak boleh berfikir lagi atau tidak mahu lagi rnenggunakan fikiran, sekalipun otaknya tajam dan cerdik. Apabila akalnya buta, dia tidak dapat lagi menangkap ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalaman hidup sama ada dari apa yang dilihat oleh mata kasar mahupun dari sentuhan anggota lahir.

Akibatnya insan yang begini rupa akan menjadi orang yang pasif, jumud, beku dan kosong daripada ilmu pengetahuan. Kalaulah ia menjadi watak sesuatu bangsa, InsyaALLAH, bangsa itu menjadi satu bangsa yang beku, jumud, tidak berkemajuan dan tidak mempunyai tamadun yang tinggi.


3. BUTA NAFSU

Buta nafsu ertinya nafsu yang tidak mendorong manusia mengikut sifat semulajadinya ke arah kejahatan dan kemungkaran. Oleh kerana kebutaannya itu, maka ianya telah dipimpin oleh hati yang memang tabiat semulajadinya sudah mengenal ALLAH, taat dan sukakan kebaikan. Hati sebagai raja dalam kerajaan diri, akan memimpin nafsu itu bersesuaian dengan kehendak-kehendak yang dibenarkan oleh ALLAH dan Rasul. Dengan kata-kata yang lain, nafsu yang buta ini akan patuh kepada pimpinan hati (roh) sebagai raja.




Hati yang buta adalah hati yang sudah rosak. Dalam kebutaannya itu ia akan dipimpin oleh nafsu. Akal yang buta atau yang sudah rosak, maka dia tidak dapat lagi menerima ilmu pengetahuan.

Sebaliknya memiliki nafsu yang buta adalah baik bagi seseorang insan kerana dengan kebutaannya itu, ia akan mendorong lagi kepada berbuat kebaikan. Atau dengan kata-kata yang lain, ianya (nafsu) tidak derhaka lagi kepada ALLAH SWT kerana ia telah dipimpin oleh hati disebabkan ia telah buta tadi.

Oleh itu sebagai seorang insan, hati (roh) hendaklah selalu dijaga agar sentiasa sihat dan celik. Jangan sampai ia ditimpa penyakit buta hati yang mana nafsu akan mengambil peluang untuk menguasai dan mengotorinya. Akal pula hendaklah dipelihara jangan sampai ia buta sehingga tidak dapat lagi menimba ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup.

Nafsu elok diusahakan agar buta dengan melakukan mujahadatunnafsi. Agar dia tidak nampak lagi .kejahatan dan kemungkaran. Supaya ia senang dipimpin oleh hati yang menjadi raja dalam kerajaan diri.

Firman ALLAH:
Terjemahannya: Sesungguhnya telah menanglah orang yang membersihkan jivanya. Dan rugilah orang yang mengotorkannya. (Asy Syams: 9-10)

Perlu diingat, kalau manusia itu berusaha menjaga hati agar tidak buta dan nafsunya dibutakan, tetapi disebaliknya tidak menjaga akal daripada buta, ia akan menjadi manusia yang mempunyai akhlak yang baik tetapi pasif dan beku. Kalau ia memimpin sesuatu bangsa, ia akan menjadikan bangsa itu baik dan berakhlak. Tetapi malangnya bangsa tersebut akan . menjadi bangsa yang beku, pasif dan tidak mempunyai tamadun.

Sebaliknya kalau manusia itu akalnya saja yang diasah dan dijaga dengan sebaik-baiknya, agar tidak buta supaya dia dapat ilmu pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan, tetapi sebaliknya membiarkan hatinya buta dan membiarkan pula nafsunya celik dan terbuka luas melihat dunia, dia akan menjadi manusia yang pandai dan berilmu tetapi jahat,kejam,tamak, mementingkan diri, penipu, tidak mempunyai akhlak dan akan menjadi perosak kepada dunia serta masyarakat umum.

Kalau watak dan sikap seperti ini ada pada sesuatu bangsa, jadilah satu bangsa itu satu bangsa yang jahat, menindas, menzalimi, tidak berakhlak dan ,menjadi perosak dunia. Inilah yang berlaku pada kebanyakan manusia di dunia hari ini terutamanya dikalangan masyarakat Barat.

Firman ALLAH:
Telah lahirlah bencana di daratan dan di lautan kerana hasil usaha tangan-tangan manusia; supaya ALLAH merasakan kepada mereka sebahagian dari (balasan) perbuatan yang mereka lakukan. (Ar Rum: 41)


Kalau seseorang itu hati (roh) dan akalnya buta tetapi nafsunya celik dan terbuka, ia akan menjadi seorang yang jahat tetapi tidak berilmu dan pasif. Sekiranya watak ini dimiliki oleh sesuatu bangsa, akan lahirlah satu bangsa yang jahat, tidak bertamadun dan pasif.

Oleh itu kita sebagai umat Islam, hendaklah
menjaga hati hingga ia sentiasa celik melihat kebenaran sepanjang masa. Jangan sampai ia buta daripada melihatnya.

Begitu juga dengan akal, jangan, sampai ia buta sehingga tidak dapat lagi menimba dan memiliki ilmu pengetahuan. Sebaliknya bagi nafsu, biarlah ia buta. Dengan kecelikan hati dan akal serta nafsu yang buta, kita akan dapat membina keperibadian dan akhlak yang tinggi serta membentuk satu bangsa yang patuh, berdisiplin, berkasih sayang serta berkemajuan dan bertamadun.

Dan hasilnya, sekali lagi kita akan berjaya menguasai dan melindungi serta memayungi umat manusia di dunia ini seperti zaman salafussoleh. Oleh itu para ulama, para pejuang Islam, jemaah-jemaah Islam, guru-guru, kiyai-kiyai dan ustaz-ustaz hendaklah berusaha dari sekarang untuk memimpin umat Islam ke arah kehidupan yang diredhoi ALLAH sepertimana yang telah kita gambarkan di atas.

sumber